Sabtu, 09 Februari 2013

About Pendidikan Lingkungan Hidup





I.                 Membiasakan diri dalam pengelolaan
lingkungan hidup


Lingkungan hidup adalah suatu kawasan alam yang didalamnya mencakup unsur-unsur hayati dan non hayati serta hubungan timbal balik antara unsusr-unsur tersebut. Hubungan timbal balik yang terjadi dalam lingkungan hidup merupakan hubungan yang fungsional sebab prosesnya berjalan secara harmonis dan stabil antara komponen-komponen yang berintegrasi.
 Lingkungan hidup dapat dikatakan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Manusia mencari makan , minum dan kebutuhan hidup lainnya, karena lingkungan hidup sebagai sumber pertama dan terpenting bagi pemenuhan berbagai kebutuhan.
Lingkungan hidup mempunyai konsep sentral dalam ekologi yang disebut ekosistem, yaitu mempunyai hubungan antara komponen-komponen dan bekerja secara teratur sebagai suatu kesatuan. Tanpa perbuatan atau campur tangan manusia yang berlebihan sesungguhnya sikuls alam akan tetap. Karena kerusakan oleh alam sendiri, dapat dikembalikan lagi oleh alan secara alami. Tetapi kerusakan oleh manusia sulit untuk dikembalikan lagi oleh alam, bahkan tidak mampu lagi seperti semula.

Ledakan penduduk dan perkembangan kebudayaan manusia menyebabkan hubungan manusia dengan lingkungan alam berubah. Dengan bergesernya hubungan tersebut ,merubah wajah alam dan lingkungan. Perkembangan tehnologi dapat menguasai alam sesuai dengan apa yang diinginkan manusia, sehingga menuntut permintaan sumber daya alam yang besar dari jumlah sumber daya alam yang terbatas.

Dalam perkembangan pembangunan dewasa ini menurut Emil Salim , berbagai masalah sering timbul apabila tidak mengambil langkah-langkahdikawatirkan akan terjadi gangguan pada lingkungan. Dampak gangguan pada lingkungan yang akhirnya merugikan manusia dan seluruh mahluk di dalamnya.

Semakin berkembangnya industri di berbagai negara , maka masalah lingkungan hidup memerlukan perhatian beberapa negara industri . Justru masalah lingkungan hidup ini timbul berkaitan dengan demngan kemajuan ekonomi di negara – negara industri . Masalah lingkungan hidup bukan hanya dirasakan oleh negara-negara maju saja , bahkan bagi negara-negara berkembang lebih para didera oleh masalah lingkungan hidup ini. , karena masayarakatnya masih miskin . Jelasnya, kemiskinan penduduk menimbulkan masalah lingkungan hidup, sebagai contoh penduduk miskin disekitar hutan merusak lingkungan dengan menebangi hutan untuk mencari nafkah hidup.



Unsur-unsur Lingkungan

Unsur-unsur lingkungan ialah faktor-faktor yang membentuk lingkungan. Unsur-unsur pembentuk lingkungan itu dibedakan 3 masam yaitu :

 Unsur Fisik
Ialah faktopr pembentuk lingkungan yang berasal dari alam atau berasal dari lingkungan itu sendiri yang terbentuk secara alamiah.
 Unsur biotik
Ialah faktor mahluk hidup yang akan membentuk sustu lingkungan , yaitu : manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan.
 Budaya
Ialah faktor kehidupan sosial dan budaya masyarakat yang mencerminkan kebiasaan dan ciri khas suatu daerah. Contohnya : kebiasaan menurunkan adat dan istiadat kepada generasi berikutnya , seperti di Bali kebiasaan menari diwariskan secara turun menurun.

A.   Arti Pentingnya Lingkungan Bagi Kehidupan

Lingkungan sangat penting bagi kehidupan manusia karena didalamnya lingkungan itu terdapat mahluk hidup dan mahluk tak hidup yang saling bergantungan. Jika lingkungan hidup tidak terpelihara maka akan menyebebkan bencana bagi penghuninya . Contohnya bencana alam yang sering terjadi akibat lingkungan hidup yang tidak terpelihara. Selain bencana alam , wabah penyakit juga sering timbul melanda lingkungan hidup yang tidak terpelihara.
Manusia selalu memanfaatkan sumber daya alam lingkungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang identik dengan istilah pembangunan. Pmebangunan yang terus berjalanselalu memanfaatkan lingkungan baik langsung maupun tidak langsung. Meskipun perkembangan Ilmu Pengetahuan Dan Tehnologi dapat mengatasi batas hambatan yang ditimbulkan alam, tetapi kenyataannya masalah dan kerusakan lingkungan sulit dihindari sehingga mengganggu dan mengancam keberadaan manusia dan habitat penghuninya.











1.     Membiasakan diri menata dan memelihara lingkungan

A.   Usaha Pelestaraian Lingkungan Hidup

Makin terancam suatu lingkungan hidup karena peratambahan penduduk dengan segala kebutuhannya, maka giatlam nanusia berusaha memulihkan hubungan keseimbangan dan keselarasan ekologi. Manusia mulai sadar lagi keberadaanya terancam dalam melangsungkan kehidupannya. Bentuk nyata dari usaha dalam memulihkan hubungan manusia dengan liongkungannya harus diwujudkan untuk menghindari dan mencegah masalah-masalah dan kerusakan liongkungan. Manusia dalam memanfaatkan lingkungan perlu pendekatan ekologi agar lingkungan tetap lestari.

Pendekatan ekologi adalah dalam pembangunan dengan memperhatikan unsur-unsur lingkungan sebagai sumber daya dalam menjalankan pembangunan yang sedang dilaksanakan Kelestarian lingkungan dalam hal ini bukannya lingkungan yang dilestarikan, tetapi kemampuan fungsi lingkungan yang dilestarikan. Jadi lingkungan dapat berubah dalam proses pembangunan , tetapi fungsi lingkungan harus tetap terpelihara secara utuh.

Contoh usaha pelestarian lingkungan hidup antara lain meliputi :
 Dengan menggalakkan program penghijauan dan reboisasi.
 Meningkatkan usaha kebersihan , penanganan sampah, dan keindahan kota dan desa.
 Meningkatkan kesadaran masayarakat terhadap masalah lingkungan hidup dengan pendidikan lingkungan hidup lewat jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah.
 Melaksakan Undang-undang Lingkungan hidup No. 4 Tahun 1982 secara konsekwen.
 Mencegah kerusakan hutan dengan pelarangan terhadap penebangan hutan yang sembarangan, praktek ladang berpindah, dan menindak pemegang HPH yang nakal.
 Adanya suatu peraturan dan pengaturan tentang izin mendirikan industri yang ramah lingkun gan.
 Usaha mengurangi atau memperkecil dampak pencemaran lingkungan.
 Usaha mencegah bahaya banjir dan erosi secara terpadu meliputi : penanganansampah yang baik, pengerukan pada sungai-sungai yang dangkal, pembuatan terrasering pada lahan miring, pembuatan tanggul-tanggul disungai yang rawan banjir, pembuatan kanal – kanal , dan pembauatan bendungan .
 Pemurnian kotoran dan limbah industri.

B.   Hakekat Pembangunan Berwawasan Lingkungan

Masalah pembangunan dan pengembangan lingkungan hidup adalah rutin dan komplek. Karena itu sulit ditanggulangi dan harus ditangani oleh pemerintah dan masayarakat . Untuk itu perlu adanya kesadaran pelaksanaan program dan pemahanan tentang apa yang mau dicapai dan harus mendorong masyarakat untuk membangun pengembangan lingkungan. Pembangunan yang dilaksanakan harus dengan pendekatan ekologis, dimana pembangunan yang memperhatikan kelestarian dan menghindari kerusakan lingkungan yang sangat diperlukan dalam menjalankan roda pembangunan , dengan pembangunan berwawasan lingkungan hidup .
                                                                                                                 

Pembangunan berwawasan lingkungan hidup diterapkan dengan tujuan untuk mengolah sumber daya alam secara bijaksana . Hal ini agar pembangunan yang dilaksanaikan dapat menopang pembangunan yang berkelanjutan bagi peningkatan kualitas hidup dari generasi kegenerasi.
Hakekat pembangunan berwawasan lingkungan ialah pembangunan yang terus dilaksanakan sebaik-baiknya, sehingga tidak terjadi pengaruh-pengaruh yang merugikanbagi lingkungan.

Ciri-ciri pembangunan berwawasan lingkungan hidup , antara lain :
 Pembangunan harus direncanakan dengan baik dan dipertimbangkan dampaklingkungan yang merugikan.
 Pembangunan harus mempertibangkan aspek-aspek lingkungan.
 Dalam melakukan pembangunan harus diikut sertakan usaha pelestariannya.

















B.   Arah Pembangunan Berkelanjutan

Pembangunan ,merupakan proses yang berkesinambungan dan manfaatnya dirasakan tidak hanya untuk generasi sekarang saja, tetapi juga untuk generasi mendatang.Usaha pembangunan berkelanjutan mengandung pengertian mengusahakan pelestarian, keutuhan fungsi lingkungan hidup seiring dengan usaha pembangunan secara menyeluruh.Pembangunan yang dilaksanakan hendaknya menganduing beberapa arah antara lain :

1. Menciptakan iklim yang merangsang pembangunan industri di negara berkembanguntuk menggeser tekanan pembangunan dari sumber alam kehutanan atau tanah menuju pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknolofgi.
2. Mengembangkan sistem perdagangan internasional untuk mendorong ekspor barang dan jasa diproses guna memperoleh nilai tambah yang meningkat dan mengurangi tekanan pada alam sebagai sumber bahan mentah.
3. Mengembangkan pariwisata lingkungan , yakni kegiatan pariwisata kedaerah-daerah yang mempunyai ciri lingkungan khas untuk mendorong timbulnya sifat kenal lingkungan dan cinta lingkungan.
4. Mengusahakan dunia internasional menanami kembali hutan-hutan tropis dan menetapkan sistem tebang pilih dalam mengeksploitasi hutan produksi.
5. Mengusahakan pengembangan keanekaragaman hutan hayati ditempat hutan asli dan diluarnya untuk menjaga kelangsungan hidup tumbuh-tumbuhan dan satwa , menciptakan bibit-bibit unggul bakal sumber obat –obatan, pangan dan industri di masa depan.




C.   Pembangunan Industri Ramah Lingkungan

Dalam pembangunan industri harus dikaji ulang berbagai pendekatan dan metode industrialisasi dengan memperhatikan lingkungan.
Pendekatan yang seharusnya mengarah pada pembangunan industri yang ramah lingkungan , yang merupakan industri bertumpu pada manajemen yang melalu memeperhatikan kaidah kelestarian lingkungan.

Pembangunan industri dewasa ini telah banyak menimbulkan masalah lingkungan , seperti : menipisnya hutan dan bahan galian , terbentuknya bahan buangan limbah, kebisingan , dan sebagainya. Berpedang dari ketentuan pembangunan berkelanjutan, maka industri diarahkan agar mempekecil dapat negatif kepada liongkungan melalui upaya pelestarian sumber daya alam dan pengendalian pencemaran.




Dinegara-negara maju penerapan industri ramah lingkungan sudah dilaksanakan setelah mengetahi dan merasakan sendiri dampak yang ditimbulkan dan industrialisasi. Misalnya hujan asam yang membuat pencemaran dan rusaknya lingkungan hidup di danau-danau besar Amerika Serikat dan Canada , bocornya reaktor nuklir Cernobybe Rusia yang mengancam kehidupan bangsa Eropa, Asap hitam di Brimingham Inggris yang mengganggu peranapasan, dan sebagainya.
Masalah lingkungan hidup merupakan masalah global , artinbya masalah lingkungan hidup yang terjadi juga dapat dirasakan dinegara lain di muka bumi ini , contoh kebakaran hutan Kalimantan Dan Sumatera dampaknya juga dirasakan negara tetangga Singapura dan Malaysia. Masalah lingkunga dunia ini akan banyak menimbulkan kekawatiranpenghuninya , sehingga muncul beberapa gagasan ahli lingkungan dunia untuk salaing bersama-sama saling memecahkan atau memngurangi masalah lingkungan. Gagasan bersama para ahli dunia diwujudkan dengan konfrensi lingkungan hidup dunia di Stockhom Swedia tahun 1972. Dua puluh kemudian ditindak lanjuti dengan konfrensilingkungan hidup dunia di Rio De Jainero Brasil tahun 1992 , yang dihadiri pemimpin negara-negara didunia dan dikenal dengan konfrensi bumi. Dari peristiwa tersebut setiap tanggal 14 juni sebagai hari bumi. Setelah itu sepuluh tahun kemudian tahun 2002diadakan lagi konfrensi bumi di Johannesborg Afrika Selatan.

Pembangunan industri ramah lingkungan harus memperhatikan banyak hal yang mengarah pada segala sepak terajangnya dan memacu pada kelestarian lingkungan serta tidak ada upaya merusak hutan. Misalnya industri yang ada dan pendirian induistri baru harus lolos dalam kelayakan rencana industri dari lingkungan atau analisa dampak lingkungan (ANDAL). Industri harus juga memiliki sarana pembuangan limbah dan cerobong asab serta penetralisirnya terhadap masalah lingkungan yang ditimbulkan.

Memang jika dilihat hal ini dianggap pengelolaan limbah adalah sepele atau mudahtetapi dampaknya sangat besar terhadap lingkungan secara global. Dari segi haban baku hendaknya industri mengurangi atau meninggalkan jenis bahan yang merusak lingkungan seperti : gas CFC,feom,Neon, Metanol ,Plastik dan sebagainya. Seharusnya pemerintah saat ini melarang industri yang memproduksi barang-barang yang menambah kerusakan lingkungan secara umum.




Industri yang ramah lingkungan , dalam pendiriaanya tidak hanya memperhatikan kaidah ekonomi, tetapi harus adanya perubahan sentra industri (sentralisasi industri) untuk dirubah dengan adnya pembatasan pendirian industri didaerah tertentu. Selanjutnya duiperlukan daerah penyanggah yang bebes industri dan adanya keseimbangankeberadaan industri dengan mengalihkan daerah yang masih kosong atau di pedesaan , sehingga antara desa dan kota terjadi pembagian pemerataan industri, misalnya di pedesaan terdapat industri kecil dan di kota besar terdapat industri lanjutan yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi. Dengan dwemikian akan saling mendukungdan melengkapi , agar indonesia menjadi negara industri yang tangguh sebagai perwujudan dari pembangunan yang berwawasan liongkungan.

Dalam melaksanakan pembangunan harus memperhatikan unsur-unsur lingkungan hidupagar pembangunan dapat dilaksanakan berkelanjutan. Pelaksanaan pembangunan yang baik dengan memperhatikan keadaan lingkungan turut membinan keadaan lingkungan agar tetap lestari, serta tidak mengganggu keberadan lingkungan.

Pembangunan berusaha meniadakan kemelarata dan sekaligus mengembangkan lingkungan hidup. Pembangunan yang sekaligus juga memengembangkan lingkungan , akan menjamin kegairaan hidup masyarakat yang dapat dirasakan pula kelak untuk generasi mendatang.Oleh karena itu seluruh manusia Indonesia harus turut berusaha melestarikan lingkungan yang sangat berarti bagi kehidupan generasi di masa mendatang


Memang banyak sekali cara untuk mengatasi permasalahan lingkungan saat ini, namun hal paling utama, menurut hemat penulis adalah menata terlebih dahulu pelakunya, yaitu diri pribadi individu sebagai pelaksana. Karena kuncinya adalah pada setiap diri individu si pelaksana itu sendiri. Proses penataan diri sendiri dapat berupa pendisiplinan diri, kesadaran akan kelestarian lingkungan, kepedulian akan lingkungan itu sendiri, sehingga setidaknya si individu itu memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan sekitarnya.





·         Pendisiplinan Diri

Pendisiplinan diri maksudnya setiap individu memiliki andil akan kelestarian lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu, tiap-tiap individu itu berhak dan berkewajiban untuk menjaga lingkungan di sekitarnya, seperti tidak membuang sampah sembarangan, melek sampah yang mana yang dapat di daur ulang dan mana yang tidak bisa, efisien di dalam menggunakan aneka produk yang bersumber langsung dari alam seperti kertas atau bahan bakar yang dihasilkan dari minyak bumi atau fosil.

Disiplin diri juga dapat diterapkan di dalam pola kehidupan sehari-hari khususnya di dalam penyediaan kebutuhan sehari-hari, seperti selalu membeli produk yang dapat didaur ulang atau kemasan isi ulang, membeli barang-barang yang hemat energi bahkan lebih baik jika hemat energi. Dan masih banyak lagi hal sepele yang dapat dilakukan sehari-hari di dalam upaya menjaga kelestarian alam dan lingkungan.

·         Kesadaran akan Lingkungan Sekitar

Menumbuhkan kesadaran akan kelestarian lingkungan adalah tindakan bijak yang dapat dan harus ada di dalam diri setiap orang. Menurut catatan sejarah, hanya ada satu umat dan spesies di muka bumi ini yang menghancurkan lingkungan dan menghilangkan keseimbangan alam tempat setiap makhluk hidup tinggal dan berkembang biak, yaitu manusia. Oleh karena itu, kunci keselamatan alam dan lingkungan adalah manusia itu sendiri, yaitu dengan menumbuhkan kesadaran akan kelestarian lingkungan sekitar.
Menumbuhkan kesadaran manusia akan kelsetarian lingkungan hidup bukanlah perkara yang mudah karena bersinggungan dengan faktor kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan tertentu, yang pada akhirya berujung pada permasalahan materi. Jelas sudah bahwa kesadaran akan kelestarian lingkungan hidup musnah tergadaikan oleh kepentingan pribadi dan golongan yang berujung pada keuntungan materi.
Menumbuhkan kesadaran diri manusia akan pentingnya kelestarian lingkungan hidup adalah pekerjaan yang boleh dibilang sulit dan berat, namun bukan berarti tidak patut diusahakan dan terus dicoba. Salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah dengan memberikan pengarahan dan pembelajaran akan pentingnya kelestarian hidup sejak dini lewat lingkungan sekolah, alangkah lebih baik jika pihak rumah pun ikut membantu. Sehingga pengajaranpun tersampaiakn secara maksimal.


·         Kepedulian terhadap Lingkungan Hidup

Peduli terhadap lingkungan hidup berarti peduli akan kelestariannya serta keseimbangannya. Banyak hal yang dapat dilakukakan sebagai wujud kepedulian kita terhadap lingkungan hidup, yaitu di antaranya dengan mengrurangi eksploitasi lingkungan tersebut, seperti tidak menebang hutan secara sembarangan, mengalihfusngikan tatanan lingkungan yang memiliki manfaat bagi keseimbangan alam. Rasa kepedulian ini bukanlah suatu hal yang mahal atau sulit dilakukan hal tersebut dapat dilakukan setiap hari di dalam kehidupan kiita dan dapat dilakukan dengan melakukan hal-hal kecil, sperti tidak membuang sampah sembaranga, membuang sampah arus selalu pada tempatnya. Selain itu, menanam pohon di pekarangan rumah sendiri, bisa pohon apa saja yang penting dapaat menambah kesejukan di bumi, khususnya di lingkungan tempat tinggal sendiri.
Bila diperhatikan keadaan lingkungan di sekitar kita telah memasuki tahapan yang sangat memprihatinkan, contohnya kadar polusi di kota-kota besar di seluruh Indonesia sungguh memprihatinkan, bahkan telah melewati batas maskimum yang telah ditetapkan oleh WHO, hal tersebut dilihat dari kadar udara kotor perkotaan dan kadar timbal di dalam darah masyarakat Indonesia khususnya yang tinggal di daerah perkotaan yang sekitar 40%-nya memiliki kadar timbal yang memprihatinkan. Belum lagi berbagai permasalahan lingkungan lainnya yang jelas-jelas merugikan manusia dan spesies lainnya. Melihat fenomena tersebut, maka perlu adanya kesadaran manusia dan kepedulian mereka akan keberlangsungan kelestarian lingkungan hidup. Oleh karena itu, manusia sebagai makhluk dominan yang memiliki mandat untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup, khususnya masyarakat Indonesia sudah saatnya untuk berbenah diri dan mulai peduli terhadap lingkungan sekitar demi keberlangsungan hidup di masa depan.
Beraksi Melestarikan Lingkungan
Untuk itu, orang tua maupun anak-anak perlu mendisiplinkan diri dalam menjaga kelestarian bumi. Dengan menjaga kelestarian dan keberlanjutan lingkungan hidup, sebuah keluarga akan menyumbang sesuatu untuk bumi tercinta dan mendapatkan manfaatnya.
Meningkatkan kualitas pengelolaan lingkungan di dalam dan di luar rumah, berarti juga:
  Meningkatkan kualitas lingkungan hidup planet bumi.
  Kondisi kehidupan keluarga lebih nyaman dan kondusif bagi perkembangan anak-anak.
  Kesehatan keluarga dan anak-anak lebih terjaga.
  Dengan mengurangi, mendaur ulang, mengganti dan menghemat penggunaan sumber daya alam dan energi bagi kehidupan keluarga, keuangan keluarga lebih mudah diatur dan dihemat.
  Terhindar dari dampak negatif kerusakan lingkungan, salah satunya bau busuk sampah yang tak terurus.

Yang dapat orang tua lakukan :
  Mengurangi penggunaan alat listrik yang menggunakan Freon (AC, Kulkas, dan sebagainya) karena Freon adalah salah satu penyebab lapisan ozon di atas permukaan bumi yang berfungsi sebagai penahan papparan sinar matahari.
  Berhemat dalam penggunaan listrik, air, tisu, kertas, serta produk lain yang banyak mengkonsumsi sumber daya alam dalam proses produksinya.
  Membiasakan hidup bersih dalam berbagai kesempatan. Misalnya tidak membuang sampah sembarangan.
  Pilih alat rumah tangga yang ramah lingkungan. Misalnya televisi dengan monitor layar datar yang hemat energi.
  Manfaatkan fasilitas antar jemput sekolah anak, untuk mengurangi polusi akibat penggunaan mobil pribadi.
  Pastikan untuk mematikan barang-barang elektronik secara tuntas
  Kurangi mengonsumsi makanan yang dibekukan, karena pembuatannya membutuhkan 10 kali lipat lebih besar dari makanan biasa.
  Memberikan pendidikan dini kepada anak terkait pemanasan global dengan cara menyenangkan, salah satunya dengan ‘nonton bareng’ film bertema lingkungan.
  Melibatkan diri dan mengajak anak ikut terlibat dengan salah satu organisasi lingkungan hidup di Indonesia misalnya WALHI, WWF, Greenpeace dan sebagainya

Yang dapat anak lakukan :
  Mengurangi jajan/membeli produk makanan dan minuman dengan kemasan plastik.
 Dengan demikian penggunaan kemasan plastik yang tidak dapat didaur ulang dapat dikurangi .plastik terbuat dari campuran bahan kimia, yang sulit diurai atau dihancurkan secara alami.
  Menyayangi mahluk hidup, baik hewan maupun tumbuhan untuk menjaga keseimbangan alam.
  Biasakan anak menghemat penggunaan listrik, dengan tidak menyalakan lampu, televisi dan alat
elektronik lainnya jika diperlukan.
  Mengurangi penggunaan kertas. Misalnya, dengan menggunakan kembali sisi belakang kertas yang
telah dipakai. Kayu sebagai bahan baku kertas, telah menyebabkan berkurangnya luasan hutan, sehinggga volume gas-gas karbon diudara makin bertambah.
  Menerapkan konsep ‘reduksi’ (mengurangi), ’recyle’(mendaur ulang), ‘re-use’(menggunakan kembali), dan mengganti penggunaan bahan-bahan tak ramah lingkungan. Misalnya, membeli produk makanan atau minuman yang menggunkan kemasan ramah lingkungan, dan sebagainya.
  Libatkan anak dalam mengelola kualitas lingkungan sekitarnya, seperti menata cahaya ruangan,
mengatur ventilasi udara, melakukan dan memelihara penghijaun, memelihara dan memelihara fasilitas sanitasi.
  Minta anak menghabiskan makanannya.








2.      Membiasakan diri  menata dan memelihara sanitasi lingkungan.
Sanitasi lingkungan

      Sanitasi merupakan salah satu komponen dari kesehatan lingkungan, yaitu perilaku yang disengaja untuk membudayakan hidup bersih untuk mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya, dengan harapan dapat menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia.

Dalam penerapannya di masyarakat, sanitasi meliputi penyediaan air, pengelolaan limbah, pengelolaan sampah, kontrol vektor, pencegahan dan pengontrolan pencemaran tanah, sanitasi makanan, serta pencemaran udara. Belum optimalnya sanitasi di Indonesia ditandai dengan masih tingginya angka kejadian penyakit infeksi dan penyakit menular di masyarakat. Pada saat negara lain pola penyakit sudah bergeser menjadi penyakit degeneratif, Indonesia masih direpotkan oleh kasus demam berdarah,  Diare, Kusta, serta Hepatitis A yang seakan tidak ada habisnya.

Sanitasi sangat menentukan keberhasilan dari paradigma pembangunan kesehatan lingkungan lima tahun ke depan yang lebih menekankan pada aspek pencegahan (preventif) daripada aspek pengobatan (kuratif). Dengan adanya upaya preventif yang baik,  angka kejadian penyakit yang terkait dengan kondisi lingkungan dapat dicegah.  Selain itu anggaran yang diperlukan untuk preventif juga relatif lebih terjangkau dari pada melakukan upaya kuratif.

Anggaran pemerintah untuk kesehatan lingkungan masih relatif minim. Dari anggaran yang masih minim tersebut, sanitasi tidak berada di urutan yang dijadikan prioritas utama. Besarnya investasi untuk pengembangan sanitasi diperkirakan hanya Rp20/orang/tahun, lebih rendah dari yang dibutuhkan sebesar Rp40,000/orang/tahun. Buruknya sanitasi ini menyebabkan kerugian terhadap ekonomi Indonesia sebesar 6,3 milyar dolar AS setiap tahun pada tahun 2006, ini setara dengan 2.3% Produk Domestik Bruto (PDB) kita.

Pemerintah juga bekerjasama dengan beberapa negara berkembang untuk meningkatkan fasilitas sanitasi dan kondisi penyediaan air bersih, khususnya di daerah pedesaan. Sangat miris rasanya jika kita masih memerlukan dana negara lain untuk membangun sanitasi di negeri sendiri.

Selain pemerintah, masyarakat juga memiliki peran yang sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang sehat. Saat ini masih banyak masyarakat yang belum sadar akan pentingnya sanitasi. Salah seorang praktisi kesehatan lingkungan menyatakan bahwa di pelosok desa masih ditemui masyarakat yang lebih memilih untuk buang air besar (BAB) di sawah daripada membangun WC untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungan sekitarnya.

Mind set masyarakat seperti itulah yang perlu diubah. Sanitasi bukan hanya kewajiban, tetapi suatu kebutuhan akan kesehatan lingkungan. Kita tentu tidak ingin dikenal sebagai sebuah negara yang warganya masih
BAB (buang air besar) sembarangan, seperti dikatakan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, yang menargetkan bebas BAB pada akhir tahun 2014. "BAB saja masih sembarangan, apa kata dunia?.



3.     Membiasakan diri dalam pemeliharaan  dan pemilihan pohon/tanaman pada lingkungan

agroforestri
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis untuk ditanam:
1. Tujuan penanaman
2. Jenis potensial dan tersedia
3. Jenis yang bisa tumbuh di lokasi



Tujuan penanaman misalnya :
1. Untuk penghara industri
2. Untuk pemanfaatan domestik
3. Perlindungan lingkungan
4. Bagian integral pembangunan pedesaan.

Dalam pemilihan dan penanaman jenis pohon dalam agroforestri dikenal istilah ”Domestikasi Pohon”. Domestikasi pohon agroforestri adalah usaha percepatan dan evolusi yang dipengaruhi oleh manusia yang membawa jenis-jenis tertentu ditanam secara luas melalui kebutuhan petani atau proses arahan pasar. Domestikasi pohon meliputi serangkaian kegiatan-kegiatan eksplorasi dan pengumpulan populasi genetik alam atau antropogenik, evaluasi dan seleksi jenis dan provenan yang sesuai, pengembangan teknik pengelolaan, pemanfaatan dan pemasaran hasi pohon dan pembangunan dan penyebaran informasi teknis (Suryanto et al, 2005).

Dalam sistem agroforestri pohon-pohonan memberikan penutup secara permanen, dengan demikian dapat lebih banyak menggunakan energi matahari. Pohon-pohonan dapat memperkaya tanah dengan seresah yang gugur diatasnya, dan dapat juga merubah iklim mikro.








Keuntungan-keuntungan lainnya yang bisa didapat dengan penanaman pohon-pohonan:

1. memberikan diversifikasi hasil. Disamping buah dapat juga dimanfaatkan kayunya
2. memberikan jaminan terhadap kegagalan hasil, kerena pohon-pohonan merupakan     'modalberdiri'
3. berpengaruh baik terhadap tata air
4. mengurangi terjadinya suhu-suhu ekstrim, baik di udara,dalam tanah, dan dalam batang dan
daun, sehingga meningkatkan produktivitas tanaman pertanian
5. dapat mengurangi kerusakan-kerusakan terhadap tanaman pertanian yang disebabkan oleh hujan yang deras




Peningkatan produktivitas sistem agroforestri dapat dilakukan melalui diversifikasi hasil dari komponen yang bermanfaat, dan menurunkan jumlah masukan atau biaya produksi. Contoh upaya penurunan masukan dan biaya produksi yang dapat diterapkan dalam sistem agroforestri : Penggunaan pupuk nitrogen dapat dikurangi dengan pemberian pupuk hijau dari tanaman yang bersimbiosis dengan bakteri penambat nitrogen.

Kandungan nitrogen di udara sebanyak ± 78%, tetapi nitrogen ini tidak dapat langsung dimanfaatkan oleh tanaman. Tanaman tertentu bersimbiosis dengan bakteri penambat Nitrogen Rhizobium dan Frankia yang mampu mengikat nitrogen dari udara dan menyediakannya bagi kebutuhan tanaman.

Beberapa Jenis pohon yang bersimbiosis dengan bakteri penambat nitrogen adalah: Acacia auriculiform, Acacia mangium, Paraserianthes falcataria, Casuarina equasetifolia, Erythrina variegata L, Intsia bijuga, Intsia palembanica, Intsia ambonensis, Tamarindus indicus Linn, Pterocarpus indicus Willd, Inocarpus fagifer, Pongamia pinnata, Gliricidia sepium dan Leucaena leucocephala.




Di samping jenis yang bersimbiosis dengan bakteri penambat nitrogen, jenis-jenis lain seperti Artocarpus elasticus, Artrocarpus interger, Anthocephalus chinensis, Urophyllum polyneurum, Macaranga gigantea, dan Macaranga winkleri adalah sumber-sumber nitrogen yang baik, karena
daunnya berkadar nitrogen yang tinggi.

Kadar phosphorus yang tinggi terdapat pada
daun Artocarpus interger, Anthocephalus chinensis, Cananga odorata, Lindera lucida, Nephelium lappaceum, Pithecellobium microcarpum dan Symplocos fasciculata sedangkan potassium dengan kadar tinggi terdapat pada daun Artocapus elasticus, Artocarpus interger, Bridelia glauca, Eusideroxylon zwageri, Lindera lucida, Nauclea orientalis, Payena lucida dan Saurauia subcordata.

Kadar calcium yang tinggi didapat pada Artocarpus elasticus, Bridelia gluaca, Cananga odorara, Cratoxylum sumatranum, Duabanga molucanna dan Symplocos fasciculata, sedangkan kadar magnesium yang tinggi didapat pada Cananga odorata, Macaranga gigantea, Macaranga winkleri, Saurania subcordata dan Symplocos fasciculata. Jenis- jenis ini dapat digunakan untuk memperbaiki tanah-tanah rusak/kritis.















   Tips Menanam Dan Merawat Pohon

   Untuk mengingatkan kita bahwa lahan untuk tanaman telah hampir punah oleh bangunan - bangunan pemukiman, pencemaran udara,lahan pertanian yang sekarat karena

http://1.bp.blogspot.com/-8IbwlB99t0I/Tw3MRg92BYI/AAAAAAAAFnA/e1JDotqRnjY/s200/Menanam+Dan+Merawat+Pohon.jpeg        tiada pohon sebagai pelindung, luas
hutan yang semakin menyusut, digantikan
oleh lahan yang rawan akan bencana alam dan banyak lagi hal - hal yang seharusnya
ada pohon sebagai penata alam yang sepadan, kini tiada lagi. Maka alangkah
 baiknya bila kita sedikit melangkan waktu dan niat untuk menanam dan merawat
pohon.


1. MENCARI LAHAN
Lahan bisa bertempat di lahan milik ( halaman rumah, kebun masyarakat atau milik perusahaan / lembaga dan lahan negara, dimana kepemilikan dan pengelolaannya dibawah pengawasan pemerintah ). Lahan yang dipilih untuk penanaman harus dijamin tidak akan berubah peruntukannya dalam jangka panjang. Pertumbuhan pohon - pohon apalagi di lahan hutan memerlukan waktu yang panjang ( diatas 10 tahun ) untuk dapat terciptanya ekosistem hutan yang baik dan berfungsi optimal. Jadi pikirkan dengan matang agar penanaman pohon bukan sekedar seremonial.

2. BIBIT YANG TEPAT
Setelah ditemukan lokasi yang cocok, langkah berikutnya adalah memilih jenis bibit yang akan ditanam. Jenis - jenis yang akan ditanam adalah sesuai dengan kondisi lahan, peruntukan dan fungsi bagi lingkungan. Bila ingin lingkungan kita teduh maka pilihlah jenis pohon yang daunnya rindang dan perawakannya besar seperti Trembesi, Flamboyan, Kersen atau Beringin. Pada lahan yang kurang subur, pohon Sengon dan Akasia bisa bertahan hidup.

Bila menginginkan kita bisa menikmati panen buah, maka tanamlah pohon buah - buahan seperti Mangga, Alpukat, Rambutan, Durian, dll. Namun, jangan menanam Durian di tempat dengan lalu lintas yang ramai karena kalau buahnya jatuh bisa membuat orang celaka. Bila untuk jalur hijau pinggiran jalan, carilah jenis pohon yang buahnya kecil - kecil, tidak banyak daun rontok, cepat tumbuh dan bisa juga yang memiliki bunga seperti Angsana, Kersen, Malabar, Bungur, Flamboyan, Asam Jawa dan lain - lain. Ingat tanaman pinggir jalan jangan yang akarnya menonjol ke permukaan tanah karena akan merusak jalan dan membahayakan pengguna jalan.





3. MEMBUAT LUBANG TANAM
Bibit yang sudah dipilih, kini saatnya siap ditanam. Sediakan lubang tanam yang dibuat sehari sebelum penanaman ( sebaiknya ). Langkah ini dilakukan agar suhu udara didalam dan diatas permukaan tanah tempat penanaman stabil sehingga dapat membantu mengurangi stess pada tanaman. Tanaman yang stress akan sulit beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Lubang tanam dibuat minimal 20 cm x 20 cm ( sesuai besar bibit ) dengan kedalam 30 cm – 40 cm ( sesuai media dan bentuk akar ). Pada awal penanaman perlu ditambahkan pupuk kandang atau kompos untuk membantu menambah hara atau nutrisi bagi “penghuni baru” bumi.

4.      WAKTU MENANAM
Pelaksanaan penanaman hendaknya dilakukan mulai jam 07.00 - 09.00 dan 17.00 – 18.00 ( tergantung Waktu setempat, WIB / WITA / WIT ), karena pada jam - jam tersebut suhu permukaan tanah tidak terlalu tinggi dan stabil sehingga dapat menghindari stres pada bibit tanaman. Apabila tidak memungkinkan menanam pada waktu tersebut dapat dilakukan pada jam yang lain, namun setelah ditanam segeralah membuat naungan untuk menghindari terik matahari yang menerpa bibit yang dapat membakar hijau daun tanaman. Bibit yang terbakar terik matahari menyebabkan klorofil daun tidak dapat melalukan fungsinya dalam proses fotosintesis dan menyebabkan tanaman bisa mati dalam waktu cepat.
5.      MENANAM BIBIT POHON
Bibit yang akan ditanam terlebih dahulu dilepaskan dari kantung - kantung media tumbuhnya ( polybag ) kemudian ditanaman bersama media tumbuhnya. Saat melepas polybag perlu tindakan yang hati - hati agar media tumbuhnya tidak rusak, Tanaman ditempatkan pada posisi tegak agar proses pertumbuhan dapat berkembangan dengan baik dan bila perlu disanggah dengan bambu. Lalu tutup lubang tanaman dengan memasukkan tanah galian dan menekan secara perlahan di sekeliling tanaman sampai bibit dapat berdiri dengan baik. Lalu berdoalah agar Tuhan menjaga tanaman kita.

Setelah bibit ditanam sebaiknya diberi ajir / patok penanda atau dipagari. Pemberian ajir bukan hanya menandakan bibit itu ditanam seseorang bukan bibit dari anakan alam. Ajir atau patok yang dipasang pada bibit punya efek psikologis bahwa tanaman itu ekslusif / istimewa / berharga dan masih dalam tahan pemeliharaan awal, perlu banyak perhatian.









6.      RAWATLAH DENGAN CINTA

Seperti seorang bayi yang baru lahir, tanpa daya dan kemandirian. Bayi itu coba kita rawat sebentar hingga bisa berbicara dan bisa makan makanan lunak. Kemudian bayi tersebut dilepas di lingkungan dimana makanan harus diusahakan sendiri, minuman harus diraih sendiri dan perlindungan pada tubuh perlu dipenuhi. Bisakah bayi itu bertahan hidup lama tanpa ada yang merenggut dan merawatnya di tempat yang cocok baginya?

Merawat sama pentingnya dengan menanam. Maka setelah menanam hendaknya dilakukan pemeliharaan terhadap gulma, semak, alang - alang, hama, kebakaran, tangan manusia dan gangguan lain agar ruang tumbuh tanaman dapat berkembang dengan baik. Selain itu jangan biarkan tanaman kekurangan gizi. Berilah kebutuhan pokoknya dengan menyiramnya dengan rutin, memberi pupuk yang sesuai dan memberi perhatian dan doa pada bibit - bibit itu. Perawatan bibit pohon bisa dilakukan sampai tanaman berumur 2 tahun. Umumnya pohon diatas umur 2 tahun sudah bisa survival dan hidup mandiri dari alam, namun tetap dijaga dari unsur perusak.
http://2.bp.blogspot.com/-TA3SgS5Nmuo/Tw3PW3d4p5I/AAAAAAAAFnI/e7VemuilROE/s320/Merawat+Pohon.jpeg











 II. Memahami Bencana Alam
Bencana alam adalah suatu peristiwa alam yang mengakibatkan dampak besar bagi populasi manusia. Peristiwa alam dapat berupa banjir, letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, tanah longsor, badai salju, dll. Beberapa bencana alam terjadi tidak secara alami. Contohnya adalah kelaparan, yaitu kekurangan bahan pangan dalam jumlah besar yang disebabkan oleh kombinasi faktor manusia dan alam. Dua jenis bencana alam yang diakibatkan dari luar angkasa jarang mempengaruhi manusia, seperti asteroid dan badai matahari.
1 . Mendiskusikan Bencana Alam yang Terjadi di Jawa Barat
Kerentanan Bencana Jawa Barat
http://dsc.discovery.com/news/2006/07/17/gallery/tsunami_zoom.jpgKondisi Jawa Barat yang merupakan wilayah dengan kejadian bencana cukup besar, sudah tidak dapat dipungkiri lagi, bahkan ada seloroh bahwa Jawa Barat merupakan provinsi yang memiliki supermarket bencana, segala jenis bencana ada, mulai dari bencana geologi, vulkanologi, klimatologi, lingkungan, dan lain sebagainya.
Kondisi ini membawa pada tingginya resiko bencana yang terjadi di Jawa Barat.
Penting untuk mengubah paradigma penanggulangan bencana saat ini mengarah pada mitigasi bukan pada tanggap darurat. Paradigma mitigasi bencana lebih dititikberatkan pada pengurangan resiko bencana, dimana resiko bencana merupakan resultan dari adanya bahaya dan kerentanan. Kerentanan (Vulnerability) adalah rangkaian kondisi yang menentukan apakah bahaya (bahaya alam maupun bahaya buatan) yang terjadi akan dapat menimbulkan bencana (disaster) atau tidak. Tiga aspek kerentanan yang perlu diperhatikan yaitu kerentanan fisik, kerentanan sosial dan kerentanan sikap/ motivasi. Tinjauan mengenai kondisi kerentanan sangat diperlukan untuk dapat menentukan upaya-upaya apa yang perlu dilakukan sehingga tingkat kerentanan bisa dikurangi.





Kerentanan Fisik

Penggunaan ruang Jawa Barat yang cenderung semakin intensif menjadi kawasan terbangun dan kawasan budidaya menyebabkan kondisi fisik Jawa Barat semakin rentan. Kita cermati peta rawan bencana yang ada,  menunjukkan hampir dua pertiga wilayah Jawa Barat merupakan lokasi yang terancam bahaya bencana. Padahal Jawa Barat ditempati penduduk kurang lebih 44 juta jiwa (BPS, 2010), dengan perkiraan jumlah penduduk yang menempati wilayah rawan bencana kurang lebih 28 juta jiwa. Wilayah-wilayah kabupaten yang hampir seluruhnya berada di wilayah rawan bencana terutama di wilayah Jawa Barat bagian Selatan dan Tengah: Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Bogor, Kab. Bandung dan Kuningan.
Selain kondisi fisik yang rentan, struktur bangunan rumah, gedung, maupun infrastruktur juga memperparah keadaan, cenderung tidak tahan gempa dan tidak tahan gerakan tanah, serta konstruksi tidak ramah banjir. Hal ini akan makin meningkatkan kerentanan penduduk dalam menghadapi ancaman bahaya. Tidak kurang berbagai pedoman teknis untuk membangun konstruksi yang tahan dan ramah dari bencana telah tersedia, namun kenyataannya masyarakat tidak membangun sesuai dengan pedoman yang ada. Peranan IMB yang dikeluarkan Bupati/ Walikota setempat tidak efektif untuk pengendalian pemanfaatan ruang, cenderung berorientasi untuk pendapatan asli daerah semata, serta kurang berfungsinya pengawasan pembangunan menyebabkan masyarakat membangun tanpa mengindahkan kaidah-kaidah keamanan bangunan. Idealnya pembangunan konstruksi pada suatu wilayah disesuaikan dengan kondisi ancaman bahaya tertentu.
Selain itu, pemanfaatan ruang perkotaan di Jawa Barat kurang memperhitungkan aspek kebencanaan. Pada satuan wilayah tingkat kelurahan misalkan, hampir semua wilayah tertutup dengan bangunan, tidak menyisakan sedikitpun ruang untuk air dapat meresap kedalam tanah. Bahkan gorong-gorong, brandgang, dan saluran drainase pun di atasnya ditutupi dengan kios pedagang yang berjejer. Makanya tidak aneh, kalau hal ini tidak diperbaiki, kedepan areal genangan banjir akan semakin luas. Jalan raya akan beralihfungsi menjadi sungai di musim hujan.
Di pedesaan sendiri, kerentanan bencana semakin meningkat dengan semakin banyaknya bangunan yang menempati sempadan sungai, tebing-tebing dan bukit-bukit terjal. Ada kecenderungan pindahnya lokasi kegiatan di wilayah banjir ke wilayah yang semakin ke hulu. Tentunya hal ini akan semakin memperparah kondisi di hulu, yang saat ini saja sudah makin parah.
Ditambah lagi dengan pola tanam yang tidak mengindahkan kaidah konservasi. Kalau dulu, para petugas PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan)  mengarahkan pola tanam dengan sengkedan-sengkedan. Sekarang jarang sekali kita lihat pola tanam dengan sengkedan, bahkan tampaknya petugas PPL juga sudah jarang kita lihat  turun ke lapangan.



Kerentanan Sosial

Kerentanan juga dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi. Makin rendah sosial ekonomi akan semakin tinggi kerentanan dalam menghadapi bencana. Bagi masyarakat dengan ekonomi kuat, pada saat terkena bencana, dapat menolong dirinya sendiri, misalkan dengan mengungsi di tempat penginapan atau di tempat lainnya.
Kondisi kemiskinan di Jawa Barat menunjukkan bahwa 2,9  juta jiwa di Jawa Barat masih berada di bawah garis kemiskinan (kategori sangat miskin, miskin, hampir miskin, Depsos RI, 2008). Dan parahnya lagi, sebagian besar mereka menempati wilayah-wilayah yang rawan bencana.
Bila kita lihat komposisi penduduk berdasar usia rentan (usia kurang dari 14 tahun dan lebih dari 70 tahun) pada tahun 2005 di Jawa Barat terdapat 31,99% atau  sekitar 1,2 juta jiwa, tentunya   kelompok usia rentan ini memerlukan penanganan khusus dan perlu prioritas dalam penanganan bencana, terutama pada saat tanggap darurat.

Peta Kerentanan Jabar
Peta Kerentanan Jabar. Sumber: RTRWP Jawa Barat,2009-2029u




Kerentanan Sikap atau Motivasi

Aspek ketidaktahuan, tidak menyadari dan kurang percaya diri dalam menghadapi bencana akan mempengaruhi tingkat kerentanan. Semakin dia sadar makin rendah tingkat kerentanannya dalam menghadapi bencana. Seringkali masyarakat di daerah bahaya, kurang menyadari bahwa dirinya berada di daerah bahaya.

Upaya Pencegahan dan Mitigasi Bencana
Berbagai upaya pencegahan dan mitigasi bencana perlu dilakukan yaitu melalui:
1.    Mengurangi Kerentanan Fisik, dapat dilakukan dengan: Pertama, Pengawasan dan pengendalian pelaksanaan berbagai peraturan tentang penataan ruang, IMB, dan berbagai izin lainnya. Kedua, Perencanaan daerah penampungan sementara dan jalur evakuasi. Tentu saja, sebelumnya perlu disusun suatu rencana ruang kota yang memperhatikan aspek kebencanaan, sehingga ruang dan jalur evakuasi dapat terakomodasi dalam rencana ruang kota. Ketiga, Pembuatan dan penempatan tanda peringatan bahaya dan larangan di daerah bencana. Keempat, pembangungan struktur fisik untuk mencegah bencana, dapat berupa tanggul, dam, bending atau struktur sipil lainnya. Kelima, relokasi penduduk ke daerah aman. Permasalahannya seringkali masyarakat setempat tidak menghendaki untuk berpindah ke lokasi lain.
2.    Mengurangi Kerentanan Sosial, dapat dilakukan melalui: Pertama, Pelatihan dasar kebencanaan bagi kelompok usia rentan. Hal ini penting dilakukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan mental kelompok usia rentan dalam kondisi tanggap darurat. Kedua, Pemberdayaan ekonomi masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup sehingga mereka dapat mempersiapkan bangunan yang memang tahan terhadap berbagai ancaman bahaya.

3.    Mengurangi Kerentanan Sikap dapat dilakukan melalui: Pertama, penyuluhan peningkatan kewaspadaan, dengan mengenali keberadaan mereka di daerah bencana, mengenali tanda-tanda akan terjadi bencana. Kedua, penciptaan dan penyebaran kearifan lokal.  Di beberapa wilayah telah memiliki kearifan lokal dengan mempelajari alam sekitar dan adat budaya dalam mencegah bencana. Sebagai contoh pada daerah pasang surut pantai dari jaman dahulu masyarakat pada wilayah tersebut sudah membangun rumah panggung. Demikian juga pada daerah gempa, sudah membangunn rumah panggung dengan konstruksi rumah tahan gempa. Hal ini dapat direplikasi dan diterapkan di wilayah lain dengan karakteristik alam dan kondisi sosial ekonomi yang mempunyai kemiripan.

Pencegahan dan Mitigasi Bencana harus dilakukan secara bersama-sama oleh berbagai pihak, pemerintah, dunia usaha, dunia pendidikan dan masyarakat itu sendiri. Begitu banyak aspek yang mempengaruhi kerentanan dalam menghadapi bencana memerlukan usaha yang terus menerus dan saling bersinergi diantara semua pihak. Mari kita budayakan sadar bencana sehingga kita bisa hidup akrab dengan bencana.
Bencana alam  yang ada di jawa barat
Gempa bumi Jawa Barat 2010
Gempa bumi jawa barat terjadi di 147 kilometer arah Tenggara Sukabumi, 149 kilometer arah Barat Daya Tasikmalaya, 150 kilometer arah Barat Daya Bandung, 160 kilometer arah Barat Daya Ciamis, dan 231 kilometer arah Tenggara, Jakarta pada 18 Mei 2010 pada pukul 19.00.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan gempa berpusat di koordinat 8,22 Lintang Selatan (LS) dan 107,21 Bujur Timur (BT) di kedalaman 13 kilometer.Sementara menurut United States Geological Survey (USGS), pusat pemantau gempa Amerika Serikat, gempa di wilayah Jawa Barat ini terjadi pukul 19.00 WIB dengan kedalaman 69,7 kilometer berkekuatan 5,4 SR. Lokasi gempa berada sekitar 115 kilometer arah Tenggara dari Sukabumi.
Gempa bumi juga terjadi di Ujung Kulon pada 19 Mei 2010 dengan kekuatan 5,4 Skala Richter pada pukul 07.13. Pusat gempa di 36 kilometer barat laut Ujung Kulon, Banten. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa berlokasi 6,78 Lintang Selatan, 105,16 Bujur Timur dengan kedalaman 10 km dan tidak berpotensi tsunami.
Untuk bencana gempa bumi, sekitar 42 juta penduduk yang berada di Provinsi Jawa Barat terpapar risiko gempa. Risiko dampak bencana di Jawa tergolong tinggi mengingat padatnya penduduk. Sutopo menjelaskan hampir separuh penduduk yang ada di Indonesia bermukim di Jawa. “Dari total 237,6 juta penduduk, 58 persen ada di Jawa,” ujar dia lagi.
Bencana Alam Tanah Longsor  Jawa Barat

Dalam tahun 2005 terjadi 47 kali musibah tanah longsor atau gerakan tanah di Indonesia, yangmengakibatkan 243 orang meninggal dunia. Dari kuantifikasi tersebut, berarti terjadi peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya terdata 32 kasus dan 110 orangmeninggal dunia.Hal itu terungkap dari pemaparan Kasubdit Mitigasi Bencana Geologi Direktorat Vulkanologidan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG) Bandung Dr. Surono di Bandung, Kamis (29/12).Surono menyampaikan refleksi dan laporan akhir tahun tentang gejala geologi di tanah air.Dikatakan, 47 bencana alam tanah longsor tersebut, yang paling banyak terjadi di Provinsi JawaBarat. "Hal ini memang terkait dengan kondisi geologis dan geografis Jabar. Selama 2005, diJabar terjadi 39 kali longsor atau gerakan tanah, yang mengakibatkan 205 orang meninggaldunia, 490 rumah mengalami kerusakan, 114 rumah hancur, dan 758 rumah terancam," ujar Surono.Penyebab tingginya musibah tanah longsor di Jabar, menurutnya, terkait erat dengan kondisigeografis yang rentan terjadi tanah longsor. "Hal itu diperparah dengan praktik atau kebijakan pengubahan tata guna lahan, sehingga semakin meningkatkan kerawanan terjadinya pergerakantanah," tegasnya.Di Provinsi Jabar, kata Surono, musibah terbesar adalah longsoran gunungan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Leuwigajah. "Musibah itu mengakibatkan 176 meninggal dunia dan48 rumah hancur," katanya.


2. Mengelompokan jenis-jenis bencana alam
JENIS-JENIS BENCANA ALAM
a.      GUNUNG MELETUS 
b.    GEMPA BUMI 
c.      TSUNAMI
d.     BANJIR 
e.      ANGIN TOPAN 
f.      DLL
Jika berdasarkan cakupan wilayah, bencana terdiri dari :
·         Bencana Lokal
memberikan dampak pada wilayah sekitarnya yang berdekatan. Bencana terjadi pada sebuah gedung atau bangunan-bangunan disekitarnya. Biasanya adalah karena akibat faktor manusia seperti kebakaran, ledakan, terorisme, kebocoran bahan kimia dan lainnya
·          Bencana regional
memberikan dampak atau pengaruh pada area geografis yang cukup luas, dan biasanya disebabkan oleh faktor alam, seperti badai, banjir, letusan gunung, tornado dan lainnya.
Bencana alam dapat dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu bencana alam yang bersifat :
·         meteorologis,
·         geologis,
·         wabah dan
·         bencana ruang angkasa.

·        Bencana alam meteorologi

Bencana alam meteorologi atau hidrometeorologi berhubungan dengan iklim.  Bencana ini umumnya tidak terjadi pada suatu tempat yang khusus, walaupun ada daerah-daerah yang menderita banjir musiman, kekeringan atau badai tropis (siklon, hurikan, taifun) dikenal terjadi pada daerah-daerah tertentu.[11] Bencana alam bersifat meteorologis seperti banjir dan kekeringan merupakan bencana alam yang paling banyak terjadi di seluruh dunia.[11] Beberapa di antaranya hanya terjadi suatu wilayah dengan iklim tertentu.[11] Misalnya hurikan terjadi hanya di Karibia, Amerika Tengah dan Amerika Selatan bagian utara.[4] Kekhawatiran terbesar pada abad moderen adalah bencana yang disebabkan oleh pemanasan global.

                                                                                                                         

·        Bencana alam geologi

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/a/a9/Mount_Merapi_Crater.jpg/220px-Mount_Merapi_Crater.jpg
Letusan Gunung Merapi.
Bencana alam geologi adalah bencana alam yang terjadi di permukaan bumi seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor dan gunung meletus. Gempa bumi dan gunung meletus terjadi di hanya sepanjang jalur-jalur pertemuan lempeng tektonik di darat atau lantai samudera. Contoh bencana alam geologi yang paling umum adalah gempa bumi, tsunami dan gunung meletus.  Gempa bumi terjadi karena gerakan lempeng tektonik. Gempa bumi pada lantai samudera dapat memicu gelombang tsunami ke pesisir-pesisir yang jauh.  Gelombang yang disebabkan oleh peristiwa seismik memuncak pada ketinggian kurang dari 1 meter di laut lepas namun bergerak dengan kecepatan ratusan kilometer per jam.  Jadi saat mencapai perairan dangkal, tinggi gelombang dapat melampaui 10 meter. Gunung meletus diawali oleh suatu periode aktivitas vulkanis seperti hujan abu, semburan gas beracun, banjir lahar dan muntahan batu-batuan. Aliran lahar dapat berupa banjir lumpur atau kombinasi lumpur dan debu yang disebabkan mencairnya salju di puncak gunung, atau dapat disebabkan hujan lebat dan akumulasi material yang tidak stabil.

·        Wabah

Wabah atau epidemi adalah penyakit menular yang menyebar melalui populasi manusia di dalam ruang lingkup yang besar, misalnya antar negara atau seluruh dunia.  Contoh wabah terburuk yang memakan korban jiwa jumlah besar adalah pandemi flu, cacar dan tuberkulosis.

 

·        Bencana alam dari ruang angkasa

Bencana dari ruang angkasa adalah datangnya berbagai benda langit seperti asteroid atau gangguan badai matahari.  Meskipun dampak langsung asteroid yang berukuran kecil tidak berpengaruh besar, asteroid kecil tersebut berjumlah sangat banyak sehingga berkemungkinan besar untuk menabrak bumi. Bencana ruang angkasa seperti asteroid dapat menjadi ancaman bagi negara-negara dengan penduduk yang banyak seperti Cina, India, Amerika Serikat, Jepang, dan Asia Tenggara.



2. Menjelaskan Gejala-gejala Terjadinya Bencana Alam
a.      GUNUNG MELETUS 
Letusan gunung berapi terjadi apabila magma naik melintasi kerak bumi dan muncul di atas permukaaan. Pada dasarnya, gunung berapi terbentuk saat pertama kali magma terbentuk, sebuah gunung berapi akan terus meletus selama masih banyak magma yang terkandung di dalamnya. Jarak antara satu letusan dengan letusan yang lain membutuhkan waktu yang relatif lama.

b.      GEMPA BUMI 
Gempa bumi yang dibedakan menurut penyebab kejadiannya memiliki sebab masing-masing sesuai dengan nama dan jenis gempa tersebut. 

1. Gempa Bumi Tektonik 
Gempa disebabkan oleh adanya pergeseran kerak bumi. Gempa bumi tektonik terjadi akibat pelepasan tenaga dari pergeseran lempeng-lempeng tektonik di permukaan bumi. Lempeng tektonik adalah suatu bagian kerak bumi yang sangat keras. Di bawahnya terdapat lapisan bumi yang lebih lunak sehingga lempeng-lempeng ini seolah-olah terapung. 

Beberapa ahli menyatakan bahwa lempeng-lempeng ini selalu bergerak menjauh, bergesekan, atau bertabrakan satu sama lain. Menurut para ahli geologi, Indonesia adalah gugusan pulau yang mengapung di kerak bumi yang dikepung oleh lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia dan lempeng Pasifik. 

2. Gempa Bumi Vulkanik 
Gempa ini disebabkan adanya aktivitas gunung berapi yang akan meletus. Gempa bumi terjadi ketika gunung api akan meletus, pada saat letusan dan beberapa waktu setelah letusan utama. Jadi, timbulnya gempa hanya ada di sekitar gunung berapi.

3. Gempa Tanah Runtuh 
Gempa tanah runtuh adalah gempa yang mengiringi bagian gua yang roboh, misalnya gua kapur atau lorong-lorong pertambangan yang lapuk. Gempa ini hanya terjadi di sekitar runtuhnya tanah tersebut. 





c.       TSUNAMI 

Tsunami adalah serangkaian gelombang yang terbentuk karena gempa atau letusan gunung berapi di bawah laut atau di daratan dekat pantai. Beberapa gelombang tsunami biasanya cukup kecil, tetapi bisa menjadi sangat besar hingga menyebabkan banjir dan kerusakan saat gelombang tersebut menghantam pantai. Nama Tsunami diambil dari bahasa Jepang yang artinya gelombang pelabuhan. 

Tsunami tercipta saat permukaan dasar laut bergerak naik turun di sepanjang patahan selama gempa terjadi atau saat bagian gunung berapi yang meletus runtuh ke dalam laut. Tsunami juga tercipta saat gempa atau letusan terjadi di daratan dekat pantai. 
Saat terjadi gelombang tsunami di laut lepas, gelombang ini tidak lebih besar dari gelombang normal tetapi lebih cepat lajunya. Gelombang ini menyebar ke segala arah dengan kecepatan yang menakjubkan sekitar 800 km/jam. Seperti gelombang lainnya, ketika gelombang tsunami memasuki air dangkal, maka kecepatannya akan menurun tetapi ketinggiannya bertambah tinggi. 

Perlu diingat lagi, bahwa gelombang tsunami ini melintas dengan sangat cepat. Ketika kecepatannya berkurang maka ketinggiannya naik secara dramatis hingga dapat membentuk dinding air yang begitu tinggi dan menghantam pantai. Beberapa gelombang tsunami dapat mencapai ketinggian 30 hingga 50 meter. Ketinggian gelombang tsunami juga tergantung dari bentuk pantai dan kedalaman pantai. Tetapi tidak perlu takut, tidak semua gempa dan letusan gunung berapi menyebabkan tsunami dan tidak semua tsunami berupa gelombang raksasa. 






d.      BANJIR 
Banjir merupakan luapan air yang melebihi batas. Hal ini terjadi jika terjadi hujan secara terus menerus tanpa berhenti dan dalam jangka waktu yang relatif lama. Selain itu, penyebab terjadinya banjir juga karena ulah manusia sendiri. Penebangan pohon-pohon di hutan secara liar, pembangunan vila-vila di pegunungan atau membuang sampah di sungai dapat menimbulkan bencana banjir. 
Pohon-pohon sangat berguna untuk menahan air hujan agar tidak langsung ke pemukiman. Akar-akar pohon akan menyerap air hujan sehingga air yang mengalir ke daratan sedikit. Jika tidak ada pohon dihutan maka air hujan langsung menuju ke pemukiman dalam jumlah besar sehingga air meluap. 
Begitu pula ketika sungai penuh dengan sampah dan banyak pemukiman kumuh di sekitarnya, maka sungai akan mengecil dan tidak mampu menampung debit air yang banyak dari pegunungan sehingga air meluap di pemukiman penduduk. 


e.       ANGIN TOPAN 
Angin topan adalah udara yang bergerak dari tekanan udara maksimum ke tekanan udara minimum. Penyebab terjadinya angin topan adalah karena adanya pergerakan udara yang sangat kencang . Tiupan angin topan mampu merobohkan berbagai bangunan dan merobohkan pohon. 

Demikian penyebab terjadinya Gejala Bencana Alam. Penyebab bencana alam terjadi karena ulah dan perbautan manusia yang mengabaikan aspek lingkungan. Lambat laun dunia akan rusak tetapi kita dapat memperlambat kerusakan dunia dengan selalu memperhatikan aspek lingkung dalam keseimbangan kehidupan manusia. 
Bila manusia tidak mengindahkan hal ini, maka terjadilah BENCANA ALAM. 




                                                                                                                                              





0 komentar:

Poskan Komentar

Free Music Sites
Free Music Online

free music at divine-music.info
 
April's Blog Blogger Template by Ipietoon Blogger Template